Oleh: agastya | Juni 22, 2008

duka yang menghening

Innalillahi wainnaillaihi raajiun..

Kalimat itulah yang terucap ketika diriku ini baru saja menginjak lantai garasi kost2an sepulang dari seharian bekerja di kantor..(Jumat,20 Jun’08 ) Seraya memarkirkan motor di teras depan rumah, aku “disambut” ama pemilik kost yang hendak mengabari berita duka itu.. Sambil terperangah seolah tak percaya.. “anak penghuni kost ada yang meninggal..” kata Dia. Aku pun kaget bercampur lemas (emang udah lemes sepulang kerja).. Dalam benakku selalu bertanya2 siapa orang yang meninggal itu.. Ternyata seorang anak penghuni kos yang belum berumur 1 tahun.

Baru 3 minggu mereka menempati kamar tengah. Setahuku dihuni oleh 2 orang wanita dewasa ama seorang balita yang belum genap 1 tahun. Masih teringat olehku tawa anak kecil itu ketika digendong ibunya.. wajahnya manis dan ceria ketika tertawa dan tersenyum melihat diriku.. cakep banget deh anak kecil itu.. Hampir ga pernah bertemu ama penghuni kamar itu, paling2 sekali-dua kali ketika subuh mengantri kamar mandi yang kebetulan satu2nya di kos aku. si anak sering terlihat duduk diatas kereta bayi.. yang kadang di “dede” (istilah menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi, baik karena mengandung vitamin D -red) di atas balkon lantai atas depan rumah..

Setelah kejadian itu, suasana kos kembali normal.. tidak ada suara tangis anak kecil lagi.. penghuni itu langsung mengosongi kamar itu untuk pulang ke kota tempat tinggal suaminya. Di kos sendiri, suasananya terlihat biasa-biasa aja, seolah ngga ada yang baru saja meninggal.. ngga seperti di kampung2 ndiriin tenda ama ngibarin bendera kuning diujung gang.. semua terlihat biasa-biasa aja.. sehari dua hari berlalu.. besoknya suasana seperti biasa.. memang, bisa dibayangkan, bagaimana jika kita hidup di apartemen, ato pemukiman yang berpagar tinggi.., ato di kost2an seperti ini..

Aku hanya merasa iba kepada keluarga yang ditinggalkan.. si kecil yang manis senyumannya.. tidak ada lagi dalam pelukan ibunya.. Ibunya hanya mempercayakan kepada asisten RT untuk mengasuh anak itu sewaktu kerja. Terlepas dari takdir yang telah ditetapkan Alah, pengasuh yang diberi kepercayaan mempunyai tanggung jawab yang besar selama berada dengan si anak.

Hidup di kost2an yang seluruhnya merupakan warga pendatang (bukan orang komplek itu) tentu ada sedikit banyak sisi individualistisnya. Entah individualistis itu merupakan suatu bentuk lain dari toleransi antar penghuni yang berlebihan ato karena perbedaan urusan dan kepentingan. Namun, dari sisi kewajiban sebagai manusia, disaat ada orang lain yang ditimpa musibah, kita wajib menolongnya. Jika tidak bisa, karena lokasi yang jauh dan waktu yang mendadak, kita hanya bisa mendoakannya.. Semoga diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Amin..

Iklan

Responses

  1. jadi inget…
    waktu kelas enam tetangga sebelah rumah gw persis yg seumuran gw meninggal. gw malah tau dia meninggal dari temen2 di sekolah.
    *bego bgt kan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: